Sunday, October 20, 2019

Rihlah Habib Umar bin Hafiz - Monas Indonesia, 24 September 2019

Bismillah.

Demikian transkrip ucapan Habib Umar bin Hafiz seperti yang diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh Sayyid Jindan bin Naufal dan Habib Soleh bin Yusuf Al Jufri, di Jakarta, pada 24 September 2019. Transkrip ini saya sediakan sedaya-upaya saya berdasarkan rakaman video oleh Nabawi TV Indonesia. Saya mohon maaf dan teguran jika terdapat kesalahan. 

Secara peribadi saya berpendapat inilah satu-satunya tausiyah yang perlu kita dengar dan ikuti, jika ditakdirkan hanya sekali sahaja telinga dan mata kita ini diberi kesempatan untuk ditarbiyah selama hidup kita. Hati tersentuh di kala guru mulia Habib Umar berkata bahawa kita mempunyai rancangan untuk sama-sama berkumpul di alam barzakh dan mengikuti perjalanan di akhirat sehinggalah kita semua masuk ke Syurga. Justeru, jangan ada di kalangan kita yang tertinggal.

Oleh kerana tausiyah ini agak panjang, maka saya akan membuat posting yang berasingan untuk terjemahan Bahasa Inggeris bi-iznillah.


***




Alhamdulillah segala puji shukur kita panjatkan kepada Allah. Pujian yang utama yang mulia yang patut bagi Allah subhanahu wa taala. Dan keagungan kurniaNya dan keagungan pemberianNya.

Tiada tuhan selain Allah yang Maha Esa, tiada sekutu bagiNya. Di tanganNyalah segala urusan dan segala perkara semuanya kembali kepada Allah. Dan tidak ada yang paling lazat melainkan kalau kita bisa memahami ruh kita tentang itu. Dan tidak ada yang lebih mulia di sisi Allah dari sekelian makhuk melebihi Nabi Muhammad salallah alaihi wasalam. Dan dengan kebesaran keagungan Allah dan dengan keagungan Nabi Muhammad kita dikumpulkan.

Siapa gerangan yang mengumpulkan kalian?
Siapa yang mendatangkan kalian?
Siapa yang memberi taufik untuk kalian hadir?
Siapa yang menghadirkan kalian di tempat ini?

Seandainya seluruh penghuni bumi berupaya untuk menghadirkan seseorang yang Allah tidak mahu dia hadir di sini, maka tidak akan dapat orang itu hadir.

Maka Allah swt dengan ZatNya dan DiriNya yang menghadirkan kalian semua. Allah yang Maha Agung mendatangkan kalian ke sini. Benar bahawa dengan Allah yang maha esa lah yang menghadirkan kita.

Semua yang mengalir dalam benakmu dari tekad untuk hadir dan kekuatan yang ada pada tubuhmu hingga kau dapat hadir, semuanya adalah dengan izin dan kemahuan Allah dan kehendakNya. Dialah Allah swt yang menghadirkan kalian dengan kurniaNya.

Mengapa Allah menghadirkan kalian di sini?
Kenapa kalian didatangkan di tempat ini?
Ini adalah rahsia-rahsia kehendak dan kekuatan Allah.
Dan inilah rahsia-rahsia dari kehendak Allah swt di tengah-tengah manusia.
Dan apa yang dilakukan oleh Allah tidak ada yang sia-sia.
Dan tidak ada yang dikehendaki oleh Allah swt sia-sia.

Mengapa Allah menghadirkan kalian? Kenapa kalian didatangkan di tempat ini? Dia sendiri yang Maha Agung - Allah taala.

Walaupun saat engkau datang di sini diarak oleh malaikat-malaikatnya sebab kalian mendatangi majlis ilmu, akan tetapi semuanya adalah taufik dan izin dari Allah taala.

Allah swt yang sangat agung yang tidak akan difahami keagunganNya yang begitu besar telah menghadirkan kalian di majlis ini.

Apakah engkau dapat membayangkan ini?
Apakah kalian bisa merasakan hal ini?
Apa hikmah dari Allah yang maha besar?
Kenapa kalian didatangkan di tempat ini?
Dan Allah Dia lah yang mendatangkan kalian.

Siapa itu Allah?
Allah yang menghadirkan manusia yang terdahulu dan yang akan datang, semuanya di panggung kiamat. Maka akan dibahagi dua kelompok. Kelompok yang ada di dalam Syurga dan kelompok yang ada di neraka.

Dan ahli syurga adalah kelompok-kelompok dan jamaat-jamaat. Dan penghuni neraka, mereka gelombang demi gelombang, kelompok demi kelompok. Apakah kelompok-kelompok ini? Dan apakah jemaah-jemaah ini?

Yang menghadirkan mereka di dalam kelompok-kelompok di dunia, Allah taala kumpulkan mereka di padang kiamat. Dan kelompok yang ada di dunia ini akan dibahagi dua. Mereka yang kelompok sebagai ahli syurga dan kelompok yang lain sebagai ahli neraka.

Sebuah perkumpulan yang tidak memiliki tujuan dan misi, dalam harta, ataupun hal-hal yang fana, ataupun apa pun hal-hal duniawi; bagaimana kira-kira pendapatmu dengan kumpulan yang semacam ini?

Dan orang yang hadir dengan benar-benar setulus hati; bagaimana nanti mereka dihadirkan dari orang-orang yang sangat tinggi darjatnya di sisi Allah. Yang menghadirkan kita adalah yang Maha Agung. Dan maksud tujuannya dan rahsia yang terkandungnya sangat agung.

Maka intropeksilah bagaimana kita bersungguh-sungguh menjalankan dengan kesungguhan agar kita mencapai hal-hal yang agung yang disiapkankan oleh Allah yang maha agung.

Ajakan-ajakan dari hawa nafsu dan ajakan-ajakan dari syaitan, dari manusia dan jin, mereka akan mengajak kepada kelompok-kelompok yang menjadikan kita rendah dan hina.

Di antaranya adalah kumpulan-kumpulan nyanyian dan lagu-lagu dengan lirik-lirik yang tidak baik. Demikian pula perkumpulan yang memandang pandangan yang sangat menghinakan dan telanjang. Ataupun juga kumpulan dalam rangka menghina dan merendahkan ayat-ayat Allah. Demikian pula perkumpulan yang dilakukan dengan menghinakan hamba-hamba Allah atau membahayakan hamba-hamba. Atau pun perkumpulan yang bertentangan dengan shariatnya Allah. Dan itulah  perkumpulan yang akan menjadikan mereka kelompok, menjadi penghuni neraka syair di hari kiamat.

Sesungguhnya Allah yang membuat kalian berpaling menghindar dari kumpulan-kumpulan yang buruk itu semua, dan mendatangkan kalian di perkumpulan yang baik ini semata-mata anugerah dari Allah taala.

Maka benar-benarlah kalian dalam menghadirkan hati kalian bersama Allah. Sebab di hari kiamat kelak tidak ada yang bisa memberi manfaat kecuali kesungguhan dan ketulusan kita.

Allah berfirman: inilah hari yang akan bermanfaat orang-orang yang sungguh-sungguh dengan kesungguhannya. Bagi mereka Syurga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka akan kekal abadi selama-lamanya. Allah redha atas mereka dan mereka redha kepada Allah.

Allah redha kepada mereka dan mereka redha kepada Allah. Hadirkan hatimu dan renungi kalimat ini. Allah redha kepada mereka. Dan mereka redha kepada Allah.

Allah redha kepada mereka dan mereka pun redha kepada Allah. Itulah keberuntungan yang agung. Inilah keberuntungan yang agung.

Ya Allah jadikan kami dan semua yang hadir di perkumpulan ini dan semua yang mendengarkan acara ini termasuk orang-orang yang memperolehi keuntungan yang besar. Ya Allah jadikanlah orang yang hadir dan orang yang mendengarkan, dan siapa saja mereka mendapatkan kejayaan yang agung.

Sesungguhnya kerajaan langit dan bumi milik Allah dan segala isinya. Dan Allah maha kuasa atas segala sesuatu. Wahai Allah Tuhan kami, pemilik kerajaan langit dan bumi dan segala isinya. Dan Allah maha kuasa atas segala sesuatu. Jadikanlah kami semua yang hadir di sini dan para pendengar acara ini dan orang-orang yang membela hal ini, semuanya sebagai orang-orang yang beruntung.

Kalian telah diberi taufik untuk hadir dan kalian diberi kekuatan taufik untuk berdoa. Dan kalian telah keluar di jalan Allah. Dan telah ada hadis sohih sesungguhnya Nabi Muhammad saw bersabda. Barangsiapa yang berjalan dalam rangka mencari ilmu, maka dia berada di jalan Allah hingga dia kembali ke rumahnya.

Dan kamu semuanya telah belajar. Dan kalian telah mendengar. Dan kalian telah berzikir dan kalian diingatkan dan mengingat Allah. Kamu telah membaca tasbih dan memuji Allah swt dan membaca: La ila ha illallah. Dan kalian bersama-sama memberi salam atas Nabi Muhammad. Dan kamu berselawat kepada beliau. Dan kalian memanggil berdoa kepada Allah. Dan kalian berharap kepada Allah. Dan kalian mengemis kepada Allah. Dan kalian memiliki maksud kepada Allah. Dan kalian munajat kepadaNya. Dan kalian berbicara kepada Allah.

Dan Allah lebih dekat kepada setiap individu dari kita lebih daripada urat lehernya sendiri. Maka sungguh-sungguhlah kalian dalam bertawajjuh kepada Allah. Dan bertekadlah dengan tekad dan kesungguhan untuk kalian sentiasa taat kepadaNya. Dengan hati- hati kalian dan dengan seluruh anggota tubuh kalian. Dan ini adalah lambang kesungguhan bersama Allah.

Setelah kalian mendapat kenikmatan yang begini agung, janganlah kalian mahu diajak oleh godaan hawa nafsu dan syaitan untuk berbuat maksiat dan dosa. Tidak dengan hati mahupun dengan anggota tubuh kalian. Anggota tubuh yang telah dianugerahkan Allah kepada kalian. Maka jangan kalian menentang kepada Allah dengan menggunakan nikmat ini.

Wahai Zat yang menciptakan mata. Wahai Allah yang mengetahui khianat-khianat yang dilakukan oleh lirikan mata. Ampunilah daripada mata kami dan para hadirin yang telah terpeleset berbuat pandangan yang buruk. Dan jagalah mata ini di sisa umur kami. Janganlah digunakan mata ini untuk kemaksiatan. Jangan Kau hinakan mata kami dengan kemaksiatan dan kesalahan.

Ya Allah, persiapkan mata kami ini untuk bisa memandang wajah-wajah para Nabi. Dan para wali-wali. Dan orang-orang soleh dan para wali-wali Allah. Dan orang-orang yang mati shahid di jalanMu. Dan untuk bisa memandang Syurga. Agar mata ini dimuliakan hingga dapat melihat wajahMu yang mulia. Jagalah mata kalian. Kita punya rencana untuk kumpul bersama di akhirat.

Bersiap-siaplah untuk bisa kumpul di tempat sana. Apakah engkau tercegal dari berkumpul di akhirat gara-gara sesuatu yang kecil seperti hand phone? Atau pandangan yang hina?

Aku sungguh khuatir terhadap engkau wahai saudaraku. Renungkanlah dan fikirkanlah. Pemikiran ini yang merupakan intisari ibadah. Janganlah engkau hilangkan hal yang agung, gara-gara hal yang kecil.

Jangan kalian kehilangan kesempatan untuk mendampingi Nabi Muhammad sang pemberi peringatan dan khabar gembira. Dan bersahabat bersambung kepada manusia yang bercahaya.

Bersungguh-sungguhlah kalian kepada Allah. Tinggalkanlah khianat-khianat mata. Jangan sekali-kali kamu melihat kepada seorang Muslim dengan pandangan yang merendahkan. Janganlah memandang dunia dan segala perhiasannya dengan keagungan. Jangan pernah mengagungkan kekafiran, kefasikan, kejahatan. Dari arah kalian  dengan cara  bersenang-senang ataupun memuji daripada hal-hal yang hina tadi. [Jangan] Agungkan segala keburukan kerana itu kezaliman yang dahsyat. Atau disebabkan kerana rasa dari sisi kerana itu merupakan kesialan yang terbesar.

Janganlah kalian mengagungkan kecuali dengan shi'ar-shi'arnya Allah. Dan shi'ar-shi'ar Allah adalah lambang-lambang agama. Dan lambang agama yang paling besar adalah para Nabi dan para Rasul. Dan Kaabah yang mulia. Dan Al-Quran yang agung.

Ambil bahagian mu dari al-Quran. Dan hendaknya kalian berdiskusi dan merenungkan al-Quran.  Jangan memboikot kitab Allah. Jangan kalian jauh dengan kalam Allah. Sebab itu adalah cahaya. Dan di dalamnya kurnia dan banyak kebaikan. Dan solat lima waktu merupakan shi'ar-shi'ar Allah yang terbesar juga. Dan kalian tadi telah diingatkan untuk menjaga solat lima waktu. Serta melaksanakan solat lima waktu berjemaah. 

Orang yang solat dengan siwak sesungguhnya 70 kali lipat dibanding dengan orang yang solat tanpa bersiwak. Apakah mereka mengajar mendoktrin kita untuk memiliki daripada benda-benda elektronik yang baru-baru tapi kita tidak didoktrin untuk mengunakan siwak.

Hendaklah kalian betul-betul menghindarkan untuk menjadi pengikut-pengikut yang hina. Dan segala hal yang tidak dicintai oleh Allah yang maha besar, maka ia adalah sesuatu yang hina.

Renungkanlah bagaimana sifat-sifat manusia yang tertinggi yang dahulu. Allah taala berfirman, dalam sifat mereka. Sesungguhnya Allah swt telah memberi kecintaan iman dan menghiasi di dalam hati-hati kalian.

Dan Allah membuat kalian benci kepada kefasikan, kekafiran dan kejahatan. Merekalah orang-orang yang telah mendapatkan petunjuk. Anugerah dan nikmat dari Allah.

Sesungguhnya Allah maha mengetahui dan maha bijaksana. Ya Alimu Ya Hakim. Wahai yang maha mengetahui dan penuh hikmah. Tetapkanlah kenikmatan dan kurnia. Sebagaimana telah Engkau berikan kepada para pendahulu kami dari sahabat-sahabat Nabimu dan keluarganya. Dan kumpulkanlah kami bersama kelompok mereka.

Dan kukuhkan langkah kami di tarikat dan jalan mereka. Sesungguhnya di alam ini banyak fikiran-fikiran yang akan mengajak kita menyeleweng daripada jalan-jalan mereka. Dan pemikiran-pemikiran ini disodorkan dijejalkan kepada anak-anak kita dan kaum wanita kita untuk mengikuti jalan dan metode mereka. Dan mereka tidak menciptakan dan mereka bukanlah menjadi tujuan kita.

Sungguh orang yang bodoh, yang tergelincir adalah yang mengekor kepada mereka. Menghilangkan daripada melaksanakan perintah-perintah sang Pencipta. Dan dia meninggalkan kesempatan untuk mengikuti kekasih Allah swt, manusia pilihan Nabi Muhammad s.a.w. Tidaklah mungkin orang akan bisa mencapai kemuliaan tanpa dengan mentaati penciptaNya.

Dan sungguh banyak ragam gambaran-gambaran yang memberikan manfaat, itu terjadi kepada kaum Mukminin. Tetapi hakikat yang sesungguhnya kemuliaan dimiliki oleh orang-orang yang beriman. Sebagai mana hakikat gambaran duniawi ini, segala nikmat pada hakiktnya, kenikmatan sebenar yang hakiki hanyalah kaum Mukminin saja.

Miliknya Allah swt kemuliaan dan keagungan kepada Rasul dan orang-orang yang beriman. Namun orang-orang yang munafik tidak menyedari hal ini.

Ya Allah berikan pelajaran hati-hati ini. Jangan sisakan di hati ini setitik pun sifat kenifakan. Ataupun kebodohan yang menjadikan kita akan termasuk dalam golongan orang-orang munafik.

Muliakanlah kami dengan ketaatan kepada Mu. Dan kami bisa merendahkan diri kami di hadapan Engkau. Perkumpulan ini dengan segala bentuknya nampak di muka bumi. Tetapi mutiara dan berlian yang sesungguhnya nanti berada di langit. Meraih keredhaan dan kemuliaan dengan redhanya Allah pencipta langit dan bumi.

"Saksikanlah wahai malaikat-malaikat Ku, sesungguhnya Kami Allah telah mengampuni mereka semuanya." Ini adalah berita yang disampaikan oleh Nabi Muhammad s.a.w. dari Allah yang maha benar Jalla Jallaluh.

Namun lihatlah, renungi sebuah pemikiran yang murni yang kami sebutkan ini agar kalian tahu apa tujuan daripada majlis ini. Jagalah anggota tubuh kalian dari maksiat Allah. Jangan kalian lepaskan lidah kalian untuk mengucapkan hal-hal yang diharamkan Allah. Daripada kalian melaksanakan ghibah ataupun mengadu domba ataupun menguncing kepada orang, gantikan dengan berzikir kepada Allah. Dan berselawatlah kepada Nabi Muhammad.

Dan nasihatkanlah kepada orang-orang Muslim. Dan berikan juga nasihat kepada orang-orang non-Muslim, mungkin dengan berkat nasihatmu, Allah berikan dia hidayat dari kekufuran menuju keIslaman.

Bahawa siapa yang dengan sebabnya akan mendapatkan hidayah satu orang, itu lebih mulia lebih baik daripada unta-unta yang merah. Maka jadilah kalian tentera-tentera yang mengabdi untuk Allah. Supaya kalian menjadi tentera-tentera pengikut Rasul dan para Nabi.

Mereka adalah pemenang sejati di dunia dan akhirat. Dengarkanlah firman Allah. Dengar firmannya Allah. Bukan ucapan-ucapan orang yang rendah. Bukan ucapan orang yang suka menghalang cara orang pemifikir [?]. Dan bukan ucapan manusia. Ucapan Allah.

Sesungguhnya kami akan menolong Rasul-Rasul kami dan orang-orang yang beriman yang bersamanya. Di dalam kehidupan duniawi dan saat di hari kebangkitan. Di hari yang tidak ada manfaatnya orang-orang yang zalim ketika mereka meminta uzur.

Berapa banyak pemimpin-pemimpin duniawi, kelak di akhirat kamu lihat dia menangis menggerun. Kamu akan lihat orang-orang yang millionaire nanti di akhirat  mereka akan menangis dalam keadaan sedih dan susah. Berapa banyak orang-orang di akhirat, yang dulu di dunianya ketika dia muncul, orang bertepuk tangan, di akhirat dia minta maaf tetapi tidak dimaafkan.

Hari di mana orang-orang yang zalim tidak akan diterima permintaan maafnya. Atas mereka laknat dan tempat tinggal yang busuk. Sesungguhnya telah tercatat dan kami tetapkan kepada hamba-hamba kami yang menjadi utusan.

Mereka adalah orang-orang yang dibela dan dimenangkan Allah. Sesungguhnya tentera-tentera  Kami lah yang pasti akan menang. Ini ucapan Allah. Yakinlah dan pegang teguhlah.

Sungguh dengan segala kerusuhan, kekacauan, kemelut yang ada di dunia ini tidak berlalu tahun- tahun melainkan semua orang yang mendustai dan berbuat jahat akan bertekuh lutut dan menjadi hina. Dan tidaklah orang yang dihancurkan dan dihinakan kecuali kerana mereka telah menyeleweng dari pencipta langit dan bumi.

Jadilah kalian pasukannya Allah. Maka kalian akan mendapatkan kecintaan Allah dan dekat dengan Allah. Dan lihat dan renungi peninggalan Rasul s.a.w. Iaitu sambungan-sambungan silsilah dari kesan-kesan dakwahnya dan shariatnya beliau.

Hingga, hati dan sanubari Sayyid Munzir Al-Musawa terkait untuk terhubung dengannya. Dan akhirnya beliau mengawali dengan mengikuti dan menteladani. Beliau mengikuti dan berpegang teguh terhadap para guru-gurunya. Mengambil sebuah amanah untuk menyambungkan makhluk dengan penciptanya. Memulai majlis dari jumlah yang sangat sedikit. Dan akhirnya masuk cahaya-cahaya di dalam hati orang yang mendengarkan. Hingga berubah orang yang lupa menjadi ingat. Orang yang ahli maksiat akhirnya taubat dan menjadi orang yang taat. Dan mereka pun juga melanjutkan perjalanannya. Maka kalian ini merupakan tanda-tanda dari hubungan kalian dengan para pewaris Nabi Muhammad s.a.w.

Kita kumpul di sini, ketenteraman, kedamaian Allah taala turunkan di majlis kita. Dan kalian diingati para penduduk langit, lebih besar daripada diingati penduduk bumi. Dan sungguh, buah daripada majlis ini sangatlah besar esok di hari kiamat.

Ketika diserukan pembawa hukum nanti di hari kiamat. Dipanggil oleh Allah taala: "Di mana gerangan orang-orang yang saling mencintai kerana Aku? Siapa yang saling duduk-duduk kerana Aku Allah? Di mana gerangan orang yang saling berziarah kerana Aku? Siapa yang saling bantu membantu kerana Aku? Pada hari ini Aku naungkan mereka di bawah naungan arashKu, hari yang tiada tempat bernaung melainkan tempat yang Aku siapkan." 

Semoga kita disambungkan kepada mereka. Dan masukkan kami di barisan mereka. Maka jadilah tentera-tentera Allah. Dengan mengajak selain kalian, ajak mereka kepada Allah.

Sucikan dan bersihkan rumah-rumah kalian dari program-program musuh-musuh Allah. Lihat dan perhatikan hati sanubari. Sucikanlah hati kalian dari hal-hal yang tidak disukai oleh Allah taala. Dan jaga anggota tubuh kalian yang tujuh: mata, telinga, lisan, perut, kemaluan, tangan, dan kaki. Jangan kalian gunakan itu semuanya kecuali untuk mentaati Allah.

Sungguh Allah telah memberikan anugerah kepada kalian dengan nikmat Islam dan iman. Dan di tengah-tengah kalian, sudah dijadikan orang yang beriman dan Islam, kalian berada dalam kelompok Ahli Sunnah wal Jamaah. Tidak ada kesesatan, kejahatan dan kebidaahan yang dilakukan dalam apa yang kalian tempuh.

Yang mana kita jauh dari hal-hal mencaci-maki sahabat atau mencaci-maki keluarga Rasulallah. Dan jalan yang kalian tempuh tidak ada istilah mengkafirkan kepada sesama kaum mukminin ataupun juga merendahkan mereka ataupun menghalalkan darah Muslim lain. Bukan pula program yang merubah kurikulum manhaj Allah dengan mengambil kurikulum atau pengaruh-pengaruh dari orang-orang kafir. Kalian menempuh dari mahzab ahli sunnah dalam fikihnya mahzab Imam Shafie. Dan memiliki mahzab yang satu dalam akidah iaitu mahzab Imam As-Shaari. Dan kalian menempuh daripada kesucian hati dan kebersihan dan mahzab ehsan, yakni mahzab dan perjalanan para ahli tasawuf.

Maka kalian tetapkan hidup kalian dengan hal yang seperti itu. Hingga dengan hal yang semacam ini kalian menghadap Allah. Maka kita akan kumpul nanti di alam barzakh. Dan kita berkumpul di padang kiamat. Di bawah bendera hamd, di telaga Rasulallah dan ketika kita meniti jambatan sirat dan tatkala masuk Syurga. Dan kita akan mendapatkan semuanya dalam Syurga. Dan di saat kita menatap wajah Allah yang mulia.

Kumpulkan kami semuanya ya Allah, yang maha Rahman dan Rahim. Dan jadikanlah kami di barisan tersebut wahai yang maha Pemurah. Ya Allah, sungguh permintaan ini besar dan semua perkumpulan ini banyak. Dan dosa kami banyak dan besar. Akan tetapi walaupun kami banyak dosa, dan banyak permintaan kami dan juga banyak jumlah ini, tetapi harapan kami besar dan engakaulah Zat yang  pasti akan memberikan kami dengan keagunganNya. 

Wahai Allah, sesungguhnya besarnya dosa kami dan besarnya permohonan kami, serta banyaknya kami yang hadir di sini, tidak menghalangi kami untuk bersungguh-sungguh berharap akan anugerahMu yang luas. Tiada Zat yang bisa mengampuni yang besar kecuali Zat yang maha agung juga.

Tidak ada yang bisa memberikan permohonan dan permintaan yang besar kecuali yang maha besar. Dan semua yang besar dan agung akan merasa rendah dan hina di depan Zat yang maha agung. Berharaplah kepada Allah. Dan benar-benar sungguh-sungguhlah kepada Allah dan mintalah kepadaNya.

Cuba renungkanlah dan pandanglah bagaimana Habib Sayyid Ali bin Abdul Rahman bin As-Saggaf dengan kondisi yang sepuh, dan sakit seperti ini, beliau hadir di tengah-tengah kita. Apa gerangan yang mendatangkan dan memanggil beliau untuk hadir? Kerana beliau faham tentang hakikah. Dan mencari yang mahal dan yang agung. 

Dan ulama-ulama itu merupakan cahaya bagi kalian. Semoga Allah taala panjangkan umur beliau dalam afiah dan sihat. Dan mudah-mudahan kita diberi kemanfaatan besar dari ulama-ulama dan orang-orang soleh yang masih hidup di tengah-tengah kita.

Dan orang alim, kalau engkau lihat, engkau akan ingat kepada Allah. Dan apabila kamu mendengarkan ucapannya, kalian akan bertambah iman kalian. Dan kalau engkau duduk dengan orang alim akan bertambah khusyukmu kepada Allah.

Itulah orang alim yang sebenar-benarnya. Dan itu adalah lentera. Dan itulah sebab turunnya rahmat. Dengan semakin berkurangnya orang-orang ulama semacam ini maka akan semakin mundur keadaan umat.

Telah kita kehilangan bangsa Indonesia, dua cahaya yang sangat besar, bahkan dua rembulan yang sangat tinggi: Al Habib Husin bin Abdullah As-Saggaf dan Shaykh Maimun Zubir. Dan bersama mereka pun banyak juga yang meninggal dari para ulama dan solehin. Mudah-mudahan Allah beri rahmat dan angkat darjat mereka. Dan Allah taala lahirkan InshaAllah, para penerus mereka di Indonesia dan di seluruh penjuru dunia. Dan mudah-mudahan kita bisa mendapatkan kemanfaatan dari ulama-ulama yang masih hidup. Dan Allah Taala giring kita kepada hal-hal yang membawa kebaikan.

Dan mudah-mudahan Allah berikan tawfik kepada Gabenor Anis Baswedan. Agar Allah taala tambahkan kesungguhannya kepada Allah. Diberi pertolongan oleh Allah sehingga bisa menjalankan kebaikan dan perbaikan. Semoga Allah memperbaiki keadaan pemimpin dan rakyat. Demikian pula pemimpin dan orang yang dipimpin. Dan pemerintahan serta semua bangsa. Dan Allah tidak akan mengiring terhadap mereka syaitan untuk memprovokasi dan memecah belah mereka.

Semoga dijaga hati kita, selamatnya hati kita kepada benci dengan yang lain. Dan dijadikan setiap individu dari kita, sebab untuk menyebarkan rahmat kasih-sayang satu sama lain.

Janganlah kita dijadikan untuk jadi sebab terjadinya kejahatan dan keburukan di tengah-tengah masyarakat Islam. Sebaik-baik manusia, yang paling manfaat bagi manusia lain. Tidak ada yang lebih jahat setelah perbuatan shirik melebihi daripada menimbulkan mudarat dan gangguan kepada manusia lain.

Dan kita juga akan berdoa kepada seorang yang soleh yang meninggal dunia di Yaman: Habib Abu Bakar bin Husin bin Abdillah Al-Hadar, yang mana beliau tadi solat Subuh dengan berjemaah dan kembali ke keluarganya, dan mengimami solat Subuh dengan keluarganya, kemudian meminta untuk berkhidmat kepada ibunya, kemudian ternyata beliau sudah meninggal dunia.

Angkat darjatnya di sisimu ya Allah. Jadikan kuburannya sebagai taman-taman syurga. Lahirkan penerusi orang soleh. Mudah-mudahan rohnya di letakkan dalam Firdausi A'la. Dan Allah berikan keberkahan untuk keluarga dan anak-anaknya.

Mudah-mudahan dirahmati orang-orang yang mati di antara kita dan para hadirin. Dan orang yang wafat dari kaum Muslimin. Apabila mereka di dalam kenikmatan mudah-mudahan ditambah kenikmatannya. Barang siapa yang diazab di kuburnya, angkat azab dari kuburnya. Angkatlah azab daripada mereka. Maafkan mereka ya Allah. Berikan rahmat juga kepada kami apabila kami menyusul mereka.

Marilah kita masuk di dalam tentera Allah. Agungkanlah harapan kalian kepada Allah. Jangan pernah putus asa dari rahmat dan anugerah Allah. Jangan kalian putus asa dari kurnia Allah. Berserulah panggil Allah. Ucapkan bersama-sama:

Ya Allahu Ya Allah
Ya Allahu Ya Allah
Ya Allahu Ya Allah
Ya Allahu Ya Allah

Yakinlah bahawasannya Allah saat ini mendengar kalian dan menatap kalian. Kalian tidak akan dikecewakan apabila kalian berharap kepada Allah:

Ya Allahu Ya Allah
Ya Allahu Ya Allah
Ya Allahu Ya Allah
Ya Allahu Ya Allah

Sungguh Allah swt akan memberi. Dan akan mengampuni orang-orang yang berdosa. Allah lah yang bisa membantu kita di dunia dan di akhirat. Untuk diri kita dan keluarga kita dan seluruh siapa di antara kita. Dan semua yang ada di negeri kita dan seluruh Muslimin. Mintalah kepada Allah dan haraplah kepada Allah. Seru dan panggil namaNya dan mintalah kepadaNya. Maka kalian akan mendapatkan kemuliaan dan kurnia dengan doa kepada Allah.

Sungguh di dunia, jutaan orang mengemis kepada selain Allah. Dan kalian dimuliakan oleh Allah, kalian menadah hanya kepada Allah. Hulurkanlah tangan kalian kepada Allah. Hulurkan tangan kalian kepada Allah. Merendahlah di hadapan Allah. Begitu agungnya Tuhan kita Allah. Sungguh betapa dermawannya Allah.

Sesungguhmya Dia lah Allah, wahai kekasih kami. Dia adalah Allah, wahai saudaraku. Dia lah Allah, wahai saudara-saudara kami. Dia lah Allah, wahai yang mendengarku.

Ya Allahu Ya Allah
Ya Allahu Ya Allah
Ya Allahu Ya Allah
Ya Allahu Ya Allah
Ya Allahu Ya Allah
Ya Allahu Ya Allah
Ya Allahu Ya Allah

Kasihani dan rahmatilah kami dengan rahmat Mu ya Allah yang maha penyayang. Ya Allah berikanlah apa yang kami harapkan. Dan kabulkan hajat kami. Sembuhkanlah orang-orang yang sakit di antara kami. Dan berikan afiyah kepada orang-orang yang kau uji di antara kami. Kami mohon kepada Engkau husnul khatimah. Kesempurnaan dari husnul khatimah. Dan seagung-agung permintaan adalah husnul khatimah. Jadikanlah ucapan setiap individu dari kami ketika meninggal dunia, kalimat La ila ha illallah. La ila ha illallah. Dengan betul-betul mentahkikkan dengan hakikat kalimat La ila ha illallah. Dan kami terkumpul bersama di hari kiamat di dalam kelompok orang-orang yang sempurna di dalam ahli La ila ha illallah.

La ila ha illallah Muhamadur Rasulluh salallahualaih wa ala alihi wa sohbih wa salam fikulli lahdhatin abada adada khalqih waridho nafsih wa zinata arshih wa mida dakalimatih.

Al-Fatihah.

Kami memohon maaf kerana ceramah yang panjang ini. Namun apa yang kami sampaikan adalah bekal kalian untuk hari yang panjang kelak.

***


Rakaman tausiyah oleh Nabawi TV:
https://www.youtube.com/watch?v=GVkPJKBmKmA&t=2924s



Saturday, October 19, 2019

Lelah tapi lucu

Bismillah.

Sungguhlah dunia ini melelahkan. Namun ada lucunya. Dan sudah pasti banyak pengajaran yang boleh dijadikan bahan renungan sampailah ke hari tua.

Pengalaman berada di alam maya selama 10 tahun telah menemukan saya dengan pelbagai jenis dan ragam manusia. Sehinggalah saat kelmarin, saya belajar satu lagi kisah orang yang mengaku dirinya sebagai pembaca setia naskah ini, yang dengan rela hatinya mengikuti saya di laman-laman maya yang lain, maka saya dengan ikhlas menghargainya, sehinggalah sesuatu yang melelahkan terjadi. 

Ianya lucu bagi saya kerana sudah acap kali berlaku, sampai saya merasakan apalah nasib penulis dan pengendali blog ini. [Ketawa sendirian].

Saya hanya sekadar berkongsi apa yang terlintas di kepala, atas dorongan hati, dengan barang sedikit kekuatan daripada Ilahi. Pastinya, karangan yang tidak bermutu adalah daripada kelemahan diri sendiri. Dan jika adapun perkongsian yang dianggap bernilai oleh khalayak ramai maka itu adalah hadiah daripada Yang Maha Esa untuk kita bersama.

Pada penghujung tahun 2018, oleh kerana kelelahan emosi yang agak melampau [ketawa] dan kesibukan saya sebagai pelajar maka saya mengambil keputusan untuk berhenti menulis di sini. Walaupun ada waktunya saya terkenangkan laman ini terutamanya pada tarikh istimewa 9 April 2019. Ketika itu saya berada di sebuah tempat yang sungguh indah dan istimewa di Abu Dhabi, di Masjid Agung Sheikh Zayed bersama ibu yang dikasihi. Pengalaman itu menjadi lebih manis kerana ia jatuh pada tarikh tersebut. Itulah tarikh saya mula menulis di sini.

Laman ini dimulakan hanya kerana saya teramat takjub dengan sebuah nama indah yang memikat hati iaitu Lisan al-Din. Ketika itu saya merasakan "Ya Allah, nama seindah ini harus terus dihidupkan selama yang mungkin." Tidak sepatutnya nama ini yang asalnya adalah nama sebuah kitab agama karangan Shaykh Ahmad Ibn Mustafa Al Alawi (1869-1934) dibiarkan hilang begitu saja.
  
Ketika itu, saya terdorong dengan kuasa yang datang entah dari mana untuk menghidupkan nama ini, biarpun saya tidak layak dan berkemampuan untuk menulis karangan ilmiah mahupun spiritual seperti majalah  Lisan al-Din yang diterbitkan oleh Shaykh Ahmad Al Alawi pada tahun 1912.

Semuanya hanya kerana sebuah nama.

Dan dengan usaha yang tidak seberapa, masa menjadi saksi kepada satu dekad yang berlalu dengan penuh liku. Menulis bukan kerana nama sendiri, tetapi untuk menghidupkan nama Lisan al-Din yang bunyinya saja cukup istimewa. Setelah 10 tahun, saya masih beranggapan bahawa laman ini tidaklah sebanding dengan nama yang dibawa. Walaubagaimanapun, tiadalah yang bernilai melainkan apa yang diiktiraf bernilai disisi Tuhan. Penilaian manusia adalah sirna.

Bercakap soal penilaian manusia, saya harap tiada lagi lelaki-lelaki, baik yang tua ataupun muda yang beriya-iya menghubungi saya hanya sekadar memberi pujian terhadap blog ini dan berkenalan dengan saya. Kerana hal ini telah membuatkan ramai wanita jadi cemburu yang bersangatan, seolah saya ini seorang wanita tua yang kesunyian yang akan merampas "hak" mereka. [Ketawa lagi].

Saya tidak tahu bagaimana mereka menggunakan "jambatan" yang mereka "punya" untuk mencari Syurga. Saya juga makhluk Allah yang diberikan "jambatan Syurga" saya sendiri. Bagi kamu agama kamu; bagi kami agama kami.

Mungkin lebih elok jika kita buka mata hati dengan lebih luas dan jangan membataskan pandangan kepada manusia yang Allah pinjamkan buat kita hanya untuk sementara.    

Dunia ini luas. Hati juga luas. Mungkin kita boleh menghalang seseorang daripada berhubungan secara zahir. Tetapi siapalah yang tahu apa yang dikandung hati? Bahkan kalau terputus dek kerana mati, sang hati yang hidup masih juga boleh menyimpan rasa rahsia kepada yang telah mati.

Kerenah dunia melelahkan.
Apakala istirehat dan mengimbas kembali perjalanan, pasti ada yang melucukan.
Di dalam kelucuan, ada pengajaran.


- E. Ismail

9 April 2019
Masjid Sheikh Zayed
Abu Dhabi

[Lisan al-Din 10 Tahun.
Shukur atas pengalaman]


p/s
Jika diberi umur dan kesempatan. Coretan ini akan memberi senyuman lagi buat saya, 10 tahun akan datang. InShaAllah.

Saya maafkan semua yang bersangka-buruk terhadap saya. Sangkaan anda tidak meninggalkan bekas yang buruk, bahkan menyumbangkan pahala percuma untuk diri yang faqir ini. Terima kasih.

Sunday, October 6, 2019

Habib Umar bin Hafiz's talk, on levels of souls and humility, at Masjid At-Taqwa - Sarawak, October 2, 2019

Bismillah.

Below is my humble attempt at translating Habib Ali Zaenal Abidin's Malay translation of Habib Umar's talk at Masjid At Taqwa, in Sarawak, Malaysia on 2nd October 2019. I am aware that there might be salient points that have gotten lost in the English translation at my end. May I be forgiven and corrected as necessary. The second part of this posting (at the bottom) is a Malay transcription of Habib Ali's translation. I hope our Malay-speaking readers would find it useful.


All praise be to Allah who has honored us with lights in our hearts, just like those who have been honored with lights in their hearts, and lights of those whom Allah has purified their hearts.  

Greetings and salutations are upon the bearer of glad tidings, the chosen torch-bearer of lights, Sayyidina Muhammad and his families and companions, he who guides us to the right path. And the descendants of Rasulallah, all the prophets, and Rasul who occupy an honorable rank. And to his families, companions, all Muslimin and all the solehin. May Allah grant all the glad tidings to us all, each and every believer.  

The best gift that Allah could possibly give to a person is the intellect, as it is the most crucial tool for one to discern the reality of each and everything. He/she who uses his/her intellect truthfully will be guided in finding the truth holistically. This special quality that Allah has granted the one who is blessed with intelligence is stated in the Quran: "And we blow the Spirit (ruh) unto man so that they may prostrate to Allah." 

The Spirit (ruh) denotes four terminologies that carry one same meaning, which is essentially a secret that is granted by Allah. By that secret, one would be able to identify the truth. The four terms are: spirit (ruh), intellect (aqal), soul (nafs) and the heart (qalb). All these four allude to a very delicate secret of Allah, through which one could distinguish the reality (haqiqah).  

Although it is common for the term nafs to be associated with negative inclinations of the self, it actually refers to two types of the soul i.e. nafs amarah (the soul that urges evil) and nafs lawamah (the soul that blames). Should the soul rises to nafs mutmainnah (the tranquil soul), then the evil traits of the preceding qualities of the soul would be weakened.

Nafs mutmainnah then would rise to nafs radhiah (the contented soul) which could further be elevated to nafs mardhiah (the soul that is pleasing to God). This elevated soul will be adorned with greater lights and pristine attributes that it would rise even higher to nafs kamilah. And this is the ultimate perfection of a man.

The term "heart" may sometimes be used to describe as a faculty that could distinguish the Reality. In this regard, the term heart also includes the "Spirit" that is contained in the heart; and the inner essence of the Spirit is as-sirr or the Secret. So the inner aspect of man is the heart, and the inner aspect of the heart is the Spirit, and the inner aspect of the Spirit is the Secret.    

The heart is a receptacle for gnosis (makrifah); the Spirit is a vessel for love, and the Secret is a place for witnessing. No man can arrive at the Spirit level, unless and until he understands the reality of his heart. Nor can he attain the Secret, unless and until he comprehends the reality of his Spirit.

Imam Al-Idrus says: "The door of the heart can only be opened with la ilaha illallah and by making plenty of recitations of the same. The key to the opening of the Spirit is through calling out lafzul jalalah that is Allah...Allah. And the door to the Secret may be opened with Hu, who is Allah.  

The unique gift of the intellect that is granted by Allah to a person shall be his/her special feature as long as the intellect is used rightly, as compared to the intelligence that is also given to animals and the inanimate objects. One who makes use of his/her intelligence correctly shall be guided so that he/she would understand the fact that this universe has a Creator, a God who wills. He/she will realize that God has not created this universe in vain. He/she would search for the secrets and wisdom of Allah's creations thus, understand the place of return for all creations. He/she would have faith and understand the reasons why Allah has sent the Prophets and Rasul to expound the wisdom behind Allah's creations. And so they would believe in the prophets...

[audio lost from 2:26:08 to 2:29:48]

One whose intellect comes to know Allah will find that his heart will cease from glorifying anyone/anything except Allah. Henceforth, the evil qualities that he used to have will be enfeebled. The state of such weakened-soul is also described as a dead-soul. Meaning, the person's heart, and soul will no longer have pride, nor would he be ostentatious or inclined towards anything other than Allah. He whose nafs (self/ego) is deceased will find his heart alive. Living nafs is like a snake.

Imam al-Haddad says: "Travel with all your might and dedication and make your lower nafs dead."  

Among the signs of one who uses his intellect wisely, is that he knows how to accord respect to the worthy as opposed to the unworthy. For that reason, Imam Shafie says, when someone wills that his wealth is given to those who are most intelligent, the benefactor would be those who are zuhud (those who lead an ascetic life). 

Imam Shafie cites a verse in the Quran that relates to people who are given worldly blessings who will find that those bounties are only limited to the worldly matters. Whereas those bounties that are with Allah are so much more valuable and lasting, do you not comprehend? Therefore, those who are intelligent would surely give priority to that which is lasting and better in the eyes of Allah. 

As mentioned in the Hikam (bezels of wisdom authored by Imam al-Haddad) that is being discussed, this world comprises of only two things: wealth and position.

One who is capable of using his intellect in the best manner would be able to free himself from being obsessed with wealth and positions.  It is easier to refrain from one's obsession towards wealth than towards positions. Imam al-Haddad therefore, says: 'The clearest proof of one's soundness of intellect is when he/she is able to give praise to his/her contemporaries.'  Because a person who is obsessive about positions tend to want to be different and appear different from everybody else. So that when he is consumed with his inclinations for positions, he finds it difficult to acknowledge/praise the greatness or eminence of his peers and those who were before him.

Those who are deemed as honorable in their time are just that - they are well recognized during their time, though the time has passed. One's honor or holiness is defined by the laws (shariah) and thus it is not bound by time. It is timeless. 

There is a hadith that says: 'Sometimes he who listens and receives information could understand better than the person who conveys.'

Allah says in the Quran: 'We teach you that which was not known by the people before you.'  He who is respected during his time is he, who offers plenty of praises for people before his time. He who only considers his own self worth and denies the greatness of the people before him, he is one who has a weak intellect.

The proof of this point can be seen among the prophets and Rasul who came later. They acknowledged and honor the prophet and Rasul before them. Only those who are evil and lost would blame everyone before them. This is a principle uphold by ahlul sunnah. The ahlul sunnah admits and shows reverence towards the ulama and the honorable people of the past.  However, the ahlul bidaah tends to ridicule the people from the past no matter how praiseworthy they were.

One who has a humble heart (tawadhuk) would not mind if he were to be pushed to last even if he deserves to be in the front. A person who has exemplary humility regards himself as not possessing any rights, that it is immaterial whether he is brought forward or if he is left behind. This is the most virtuous quality among those who are praiseworthy.  

This sort of humility can be seen in Imam Umar bin Abdul Rahman al-Attas. As he was walking to a mosque, he passed by a lady who was sweeping her house. Some dirt coming from the broom had soiled the imam's headgear. His students who were walking with him wanted to reprimand the lady but the Imam stopped them. Instead, he went home and changed his outfit. Imam Umar says: 'Anyone who is aware of the rights of Allah to punish him in Hell, should not protest when he gets a little dirty from soot.' 

The man who has the most perfect example of humility is Prophet Muhammad. This is evident from the way he interacted with children and even the animals. He once said: "I am only a servant, I eat like a servant and sit like a servant." Anyone may come close to Prophet Muhammad's degree of humility, but no one can be compared with him salallah alaihi wasalam as the Prophet was lifted to Sidratul Muntaha and Arash that he was in a unique position to witness Allah; no one else was granted such privilege.

One of the signs of a person who is sincere is that he is not bothered if people like or dislike him for as long as Allah is well-pleased with him. One learned man says: 'If Allah is pleased with me, it is no different to me whether people praise me or hate me. Both are the same to me.'  

May Allah grant us the biggest of redha
and rectify our zahir and batin
and that Allah gives us a perfect intellect

Saidina Ali says: 'One worships God according to one's intellectual capacity'
And so we pray Allah grants us ikhlas for His sake,
that He lets us have tawadhuk
and that we belong with those whom Allah has written all things good

O Allah bless our gathering
and bless us with all that we have heard about this knowledge
and bless our actions

Accept us and may You grant us qabul
We open our hands to You O Allah
do not forsake us

None, save the Most Strong, for he who is weak
None, save the Most Powerful, for he who is weak

O Most Strong and Most Powerful
take a glance on us
make us get near You
make good our affairs as You have made good the affairs of the solehin
elevate us to ilmu yaqin, ainul yaqin and haqqul yaqin
by Your Mercy O Most Loving

grant mercy to the people who serves this mosque
make us belong with them as people of taqwa 
shower Your lights to all our mosques
and help them carry out their duties with taqwa
and please accept our good deeds
and grant our prayers

Look at all our hearts in this gathering
elevate us to a high rank
and grant us glad tidings
and grant us intercessions from Prophet Muhammad
and from those who are near You
and those who are raised high by You
make us among those selected to follow him 
O Most Graceful and Most Loving

Ya Akramal Akramin
Ya Arhamal Rahimin

***


Note:
The original recording being the source of this translation was published here:
https://www.facebook.com/darmedia.tv/videos/241723553445856/

Habib Umar's transcript in Malay as translated from Arabic by Habib Ali Zaenal Abidin, is as below:

Segala puji bagi Allah subhanahu wa taala yang menganugerahkan kepada kita cahaya di dalam hati bersama dengan orang-orang yang diberi cahaya di dalam hatinya. Dan cahaya-cahaya orang yang hatinya dibersihkan oleh Allah subhanhu wataala.

Selawat dan salam kepada yang membawa berita gembira yang membawa cahaya yang menerangi kepada seorang insan yang dipilih oleh Allah subhanahu wa taala Sayidina Muhammad berserta ahli keluarga dan para sahabatnya yang membawa kita kepada jalan yang benar.

Dan juga kepada keturunan baginda Rasulallah daripada para Anbiya dan juga para Rasul yang memiliki kedudukan yang besar. Dan juga kepada ahli keluarga mereka, kepada sahabat mereka dan juga kepada kaum Muslimin, dan juga kepada seluruh orang-orang yang soleh. Semoga Allah memberikan kebaikan itu semua kepada kita dan juga kepada seluruh kaum Muslimin keseluruhannya.

Pemberian yang paling baik diberikan oleh Allah kepada seseorang adalah akal fikiran, iaitu merupakan alat yang paling penting untuk mengenali hakikat sesuatu. Dan barang siapa yang menggunakan akal fikirannya dengan benar maka dia akan dibimbing untuk mendapat makna kebenaran secara meluas dan menyeluruh.

Dan keistimewaan yang Allah berikan kepada insan ini dengan akal fikiran dinisbahkan di dalam Al Quran al-Karim oleh Allah, dengan ruh yang merupakan rahsia ciptaan Allah kepada manusia seperti mana difirmankan oleh Allah di dalam Quran: "Dan kami hembuskan pada ruh itu sehingga manusia itu sujud kepada Allah."

Yang mana ruh itu dinisbahkan dengan empat kalimat yang mempunyai makna yang satu iaitu rahsia yang diberikan oleh Allah. Yang dengan rahsia itu seseorang dapat mengenali kebenaran iaitu yang dinisbahkan dengan kalimat ruh, kalimat akal, kalimat nafsu dan juga kalimat hati.

Yang empat perkara ini adalah merupakan daripada sesuatu yang halus daripada rahsia Allah dan rahsia yang diletakkan oleh Allah yang dengan sesuatu yang halus ini dan rahsia yang diletakkan ini, seseorang dapat mengenali hakikat.

Walaupun kebiasaannya kalimat nafsu itu digunakan kepada sifat-sifat yang jahat yang ada kepada seseorang walaupun yang dinisbahkan kepada kejahatan pada nafsu ini adalah terletak kepada nafsu yang amarah dan juga nafsu lawamah, kalau nafsu itu tadi meningkat kepada nafsu mutmainnah, akan melemahlah kejahatan sifat-sifat nafsu yang sebelumnya.

Dan nafsu tadi akan menaik daripada mutmainnah kepada sifat redha kepada Allah sehingga dinisbahkan nafsu itu nafsu yang redha dan bilamana naik lagi tinggi ke atas nafsu tersebut menjadi nafsu yang diredhai oleh Allah. 

Dan nafsu yang diredhai tadi itu akan bertambah cahayanya dan juga kebaikannya sehingga meninggi kepada nafsu yang dinamakan nafsu yang kamilah atau sempurna dan itulah hakikat kesempurnan seorang insan.

Dan terkadang dinisbahkan kepada istilah tadi untuk mengenal kepada hakikat sesuatu yang namanya hati, yang bilamana dinisbahkan kepada hati ini, dinisbahkan juga kalimat ruh yang ada di dalam hati, di dalam rahsia kepada ruh itu atau batin kepada ruh itu namanya adalah as-sirr atau rahsia. Batinnya manusia itu adalah hati, batinnya hati itu adalah ruh, dan batinnya ruh itu adalah as-sir atau rahsia.

Hati itu tempat makrifah, adapun ruh tempatnya cinta, adapun as-sir itu adalah tempat untuk penyaksian. Tidak akan sampai seseorang kepada alam ruh dirinya itu kecuali dia sudah memahami hakikat hatinya. Dan tidaklah sesesorang akan sampai kepada hakikat rahsia kecuali sudah memahami hakikat ruh.

Imam Al-Idrus mengatakan: pintu kepada hati tidak dibuka kecuali dengan la ila ha illalah dan memperbanyak akan kalimat tersebut. Adapun kunci kepada ruh adalah memperbanyak kalimat lafzul jalalah iaitu Allah Allah. Dan dibuka pintu as-sirr dengan kalimat dzamir Hu yakni Allah.

Dan keistimewaan akal ini yang diberikan oleh Allah kepada manusia ianya adalah menjadi keistimewaan bagi manusia itu bila mana digunakan dengan benar berbanding kepada binatang-binatang dan juga benda-benda yang mati.

Orang yang menggunakan akal fikirannya dengan benar akan terpandu dan terbimbing untuk mengenali bahawasanya alam ini ada yang menciptakan daripada Tuhan yang berkehendak. Dan meyakini bahawasanya Allah menciptakan alam ini bukan sia-sia dan tidak mempunyai tujuan dan dia akan mencari rahsia daripada ciptaan Allah dan hikmahnya, dan menyedari mengetahui ke mana kembalinya seluruh makhluk ini.

Dan dia dengan demikian akan meyakini dan mengetahui bahawasanya Allah menghantarkan para Nabi dan para Rasul untuk menjelaskan hikmah disebalik ciptaan Allah.

Dan akal fikiran manusia itu akan mempercayai kepada Nabi...

[Tiada audio daripada minit  2:26:08 ke 2:29:48]

Dan tuntutan daripada kenalnya akal kepada Allah, akan terkeluar daripada hatinya keagungan kepada selain Allah. Dengan demikian akan melemahlah segala kekuatan yang jahat yang ada di dalam diri manusia.

Kelemahan nafsu ini pada seseorang digambarkan dengan nafsu yang mati. Sehingga dikatakan sesorang ini jiwanya atau hawa nafsunya telah mati. Ertinya adalah tidak ada baki lagi dalam hati dan jiwanya sifat sombong, sifat riak dan sifat kecenderungan kepada selain Allah. Orang yang nafsunya mati, maka hatinya akan hidup. Nafsu ini kalau dia hidup maka dia umpama macam ular.

Kata Imam al-Haddad: "Bermusafirlah kamu dengan semangat dan kesungguhan, dan jadikanlah hawa nafsu kamu itu adalah dalam keadaan mati."

Dan di antara tanda seorang menggunakan akal fikirannya itu dengan baik, bilamana dia mendahulukan yang mulia berbandingkan yang hina. Oleh sebab itu Imam Shafie pernah mengatakan bahawasanya bilamana seorang berwasiat hartanya diserahkan kepada orang yang paling berakal maka diberikan harta tersebut kepada orang-orang yang zuhud.

Di ambil kata-kata ini daripada Imam Shafie daripada firman Allah subhanahu wa taala yang maksudnya adalah orang-orang yang hanya diberikan Allah kenikmatan keduniaan, maka hanya terhad kepada kenikmatan keduniaan sahaja, adapun yang ada pada Allah itu adalah lebih baik dan lebih kekal, tidakkah kamu berakal? Maka orang yang berakal pasti akan mendahulukan apa yang kekal dan baik di sisi Allah.

Dan dunia ini sepertimana disebutkan dalam hikmah ini hanya terhad kepada dua perkara yang pertama adalah harta dan kedua adalah jawatan.

Dan seorang yang bijak menggunakan akal fikiran, dia mampu untuk membebaskan dirinya daripada terbelenggu pada harta dan juga terbelenggu kepada kedudukan. Membersihkan diri daripada kecintaan, kecenderungan kepada jawatan dan kedudukan lebih sukar berbandingkan mengeluarkan diri daripada kecenderungan kepada harta. Menolak kedudukan dan jawatan lebih berat bagi seseorang untuk berhadapan dengan kecenderungan itu.

Oleh sebab itu Imam Al-Haddad mengatakan di sini, bukti yang paling jelas akan kesempurnaan akal seseorang adalah bila mana orang itu memuji kepada orang-orang yang sebaya dengannya. Kerana orang yang suka kepada kedudukan dan jawatan maka dia cenderung untuk nampak lain dan berlainan daripada yang lain. Oleh sebab itu terkadang seseorang bilamana terkalahkan dengan hawa nafsunya, sukar untuk mengakui kemuliaan keagungan orang yang ada dengannya. Dan dinisbahkan kepada orang-orang yang mulia daripada sebelum zamannya. 

Katakan kepada orang yang mengatakan kepada orang-orang yang muttakhir itu tidak memiliki kemuliaan, hanya menisbahkan kemuliaan kepada orang-orang yang terdahulu. Orang-orang yang mulia pada waktu itu adalah baru di zamannya tetapi bagi zaman kita ia adalah sudah berlalu. Kemuliaan itu adalah terletak kepada kedudukan kebenaran itu yang sesuai dengan shariah dan ianya tidak tertakluk kepada waktu dan juga zaman.

Di dalam hadis dinyatakan bahawasanya terkadang orang yang mendengar itu, terkadang orang yang menerima maklumat lebih faham daripada yang menyampaikan atau mendengar maklumat.

Allah berfirman juga di dalam Al Quran Al Karim, dan diajarkan kepada kamu apa yang tidak diketahui oleh generasi sebelum kamu dan seorang yang mulia di zamannya itu adalah orang yang paling banyak memuliakan kepada orang-orang yang mulia sebelum zamannya. Adapun orang yang dia hanya melihat kemuliaan kepada dirinya dan mengurangkan kemuliaan orang-orang yang sebelumnya maka ia adalah merupakan tanda lemahnya akal fikirannya atau tidak sempurnanya menggunakan akal fikirannya.

Dalilnya adalah para Nabi dan juga para Rasul yang datang setelah Nabi-nabi yang sebelumnya yang datang setelahnya itu mengangungkan dan memuliakan serta membenarkan Nabi-nabi yang sebelumnya.

Adapun orang-orang yang jahat dan orang-orang sesat selalu akan menyalahkan kepada orang-orang yang sebelumnya. Konsep ini adalah menjadi pegangan kepada ahli sunnah. Di mana mereka memegang kepada konsep memuliakan kepada orang-orang yang sebelumnya daripada mereka, para ulama dan orang-orang yang mulia yang dimuliakan kerana kemuliaan mereka itu.

Adapun orang-orang yang lebih cenderung kepada ahli bidaah adalah selalu mengurangkan kemuliaan orang-orang yang sebelum mereka. Dan dalil yang paling jelas akan tawaduknya seseorang yakni sifat tawaduk dlm hati, merasa redha bilamana ditempatkan di tempat akhir walaupun tempat yang sebenarnya dia berada di hadapan.

Dan di situ juga ada dalil atau bukti yang lebih sempurna menunjukkan tawaduknya seseorang. Dalil kesempurnaan tawaduknya seseorang adalah bilamana melihat kepada dirinya tidak memiliki hak apa pun juga sehingga tidak melihat dirinya layak untuk dikedepankan atau diakhirkan. Ini adalah sifat yang termurni bagi mereka orang-orang yang mulia.

Ditunjukkan sifat tawaduk ini daripada contoh seorang yang bernama Imam Umar bin Abdul Rahman al-Attas yang keluar daripada rumahnya ingin menuju ke masjid lalu seorang wanita di rumahnya sedang menyapu lalu membuang debu daripada rumahnya itu yang kena kepalanya Imam Umar bin Abdul Rahman. Lalu anak muridnya ingin mengetuk pintu dan ingin menegur. Kata Imam Umar Abd Rahman melarang kepada muridnya itu. Bahkan dia kembali ke rumahnya dan tukar baju yang baru dan keluar menuju ke masjid. Dan dia mengatakan barang sesiapa yang berhak dirinya untuk dihukum oleh Allah dengan api neraka maka dia tidak boleh protes bilamana hanya kena debu daripada bekas debu daripada bakaran yang kena kepada dirinya.

Dan penghulu kepada mereka yang bertawaduk ialah Nabi Muhammad. Tengoklah bagaimana sifat tawaduk beliau di dalam berinteraksi dengan manusia termasuk kepada kanak-kanak, termasuk hatta kepada binatang pun juga. Sebagai simbol tawaduk beliau, beliau mengatakan sesungguhnya saya ini hanya seorang hamba, makan sepertimana makannya hamba dan duduk sepertimana duduknya seorang hamba.

Selain daripada baginda, bilamana memiliki sifat tawaduk seperti baginda Rasulalah akan tetapi tetap berbeza disebabkan oleh kerana Nabi yang bertawaduk diangkat oleh Allah melepasi daripada Sidratul Muntaha sementara yang lainnya tidak ada yang sampai kepada darjat demikian. Kalau ada orang yang juga bertawaduk seperti tawaduknya Nabi Muhammad, tidak sama juga tawaduknya dengan beliau disebabkan oleh kerana beliau terangkat meninggi sampai di atas Arash dan melihat kepada Allah. Sementara selain Nabi, tidak mendapat hal yang demikian.

Dan kemudian disebutkan tanda yang ketiga bagi seorang yang ikhlas, tanda bagi orang yang ikhlas adalah orang itu tidak peduli orang itu suka kepada dia atau murka kepada dia, selagi Allah redha kepada dia.

Kata Imam Ma Bakrama mengatakan, kalau Allah itu redha kepada aku maka aku tak peduli orang itu murka kepada aku. Kalau Allah redha kepada aku maka orang puji aku atau orang murka kepada aku bagi aku kedua-duanya adalah sama.


Semoga Allah menganugerahkan kepada kita redha yang terbesar dan memperbaiki zahir kita dan batin kita. Dan diberikan oleh Allah akal yang sempurna.


Saidina Ali mengatakan sesungguhnya orang itu menyembah kepada Tuhannya mengikut kadar kemampuan akalnya. Dan kita memohon kepada Allah supaya menganugerahkan kepada kita ikhlas kerana Allah. Dan diberikan oleh Allah sifat tawadhuk dan mudah-mudahan Allah menggolongkan kita dalam golongan orang-orang yang ditulis kebaikan oleh Allah.

  
Ya Allah, berkatilah perkumpulan kami ini dan berkati apa yang kami dengar daripada ilmu ini dan berkati amal perbuatan kami.

Terimalah kami dan berkati qabulnya Engkau kepada kami. Kami tadahkan tangan kami kepada mu ya Allah dalam keadaan kami tidaklah dinafikan oleh Engkau.


Tidak ada bagi yang lemah kecuali yang Maha Kuat. Tidak ada bagi mereka yang lemah kecuali yang Maha Berkuasa. Pandanglah kepada kami, dekatkanlah kami dengan Mu, perbaiki segala urusan kami sepertimana engkau perbaiki urusan orang-orang yamg soleh. Dan angkatlah kami semua dalam darjat ilmu yakin, ainul yakin serta haqqul yakin dengan rahmat Mu wahai yang Maha Pengasih.



Berilah keberkatan kepada ahli jawatankuasa masjid ini dan mereka yang bertugas di dalamnya. Dan jadikanlah kami bersama mereka dalam golongan orrang-orang yang bertakwa. Dan masjid-masjid kami tambahkanlah nur dan cahaya daripada Mu Ya Allah. Dan berikan kepada penduduk masjid itu sebagai orang-orang yang menjalankan tugasan daripada ketakwaan.

Dan jadikanlah amal perbuatan baik kami diterima oleh Mu dan doa-doa kami dikabulkan. Pandanglah kepada hati-hati kami dalam perkumpulan ini dan angkatlah darjat kami di tempat yang tinggi. Dan juga perdengarkan kebaikan kepada kami ya Allah. Dan berikan shafaat kepada kami daripada Nabi Muhammad dan orang-orang yang dekat dengan Mu dan tinggi kedudukannya di sisi Mu. Dan jadikanlah kami dalam golongan orang-orang yang terpilih dalam mengikuti beliau wahai yang Maha Mulia dan Maha Pengasih. Ya Akramal Akramin. Ya Arhamal Rahimin.


***

Thursday, October 3, 2019

Dawn of a special day with Habib Umar bin Hafiz at Sultan Salahuddin Abdul Aziz Mosque - Malaysia

Bismillah.

One occasion I was fortunate to attend, in a long time -- a talk by the venerable Habib Umar bin Hafiz in the early morning of 30th September 2019, at this beautiful blue mosque in Shah Alam, Malaysia.



Habib Umar's speech was translated into the Malay language by none other than Habib Ali Zaenal Abidin Al Hamid.

Below is my attempt to translate, verbatim, as much as possible. May I be forgiven for any errors or oversight.

***

Praise be to Allah who makes us remember Him, with the hope that He would bestow upon us His bounties, while we humble ourselves to Him. We are cognizant of the fact that the honorable and lofty stature near Him, cannot be attained unless we humble ourselves to Him. As we pin our hopes on His great mercy; as we long for a great reward from Him. And that we plead for lights and guidance from His Prophet, the foremost of all guides. And that we bear witness, there is no god but Allah, the One and only God. From Allah, we come and unto Him is our return. That Allah is the Ever-living, who causes death and He holds power over each and everything. And we bear witness that Muhammad is a servant, a Prophet and Rasul of Allah. That Muhammad was His messenger, His beloved, one who brings forth light. While we are among the prophet's best people. That Allah lifts darkness by his grace. That Allah removes all calamities and hardships by the prophet's mercifulness. And that we plead to Allah that He sends salutations to an-Nabi Muhammad salallah alaihi wasalam, and unto his families and companions who were the source of wisdom. And those who followed the companions with a strong will. And may the salutations be upon his families and circles, and upon the muqarabbin those who are close to Allah, to the pious servants of Allah, and may the blessings reach us here, all who are present at this gathering. O Allah may you send the purest of salutations to the Prophet, may by the blessings that You grant to the Prophet, may you extend it to us. That, You bestow upon us tawfik (strength) so that we may worship You in the best possible manner. That You O Allah has granted us tawfik, the abilities to perform the Fajr prayers in congregation. That You O Allah has informed us about the angels close in rank with You, that they do indeed witness those who offer the Subuh prayers. And that one who makes way to the mosque for Subuh prayer will be accorded one reward for each step taken, and one sin removed thereby. And that each step is regarded as one who fights for Your sake. And that those who perform Subuh prayers shall remain in Your protection until the evening. And that You have ordered us to seek beneficial knowledge. And so we learned from Your honorable Prophet that one who makes a trip to the mosque looking for knowledge or to impart knowledge, he will be increased in ranks. That those fadhilah (benefits) that we are aware of and those which you kept hidden from us, that we are not aware of, and that everything we have done to be present here, is a manifestation of Your tawfik that You bestowed upon us. We are indeed grateful and we offer our praises to You O Allah. 

Habib Umar bin Hafiz (right) with Habib Ali Zaenal Abidin (left)
at Sultan Salahuddin Abdul Aziz mosque on 30th Sept 2019 

We shall resume our reading of Kitab Al Hikam authored by Imam al-Haddad.

Allah grants wisdom to whomever He chooses. Those who are granted wisdom, verily have obtained plenty of blessings. Only those who have a good degree of intellect, the ahlul albab, would take heed. O Allah, make us, who are present here and those who are listening, among those who are intelligent. They the ahlul albab are keen on learning and with that knowledge, they are capable of motivating themselves to perform good deeds. And lights shall be upon them so that they become pure and thereby become close to You O Allah, by Your mercy O Allah Most compassionate.

In reference to Kitab al-Hikam, one who makes a habit of detaching himself from good deeds shall be deprived of plenty of goodness. "Azaim" is the plural for "azimah" - defined as one who has a strong determination in journeying towards Allah, with high spirits. A person who has azimah carries a heavy responsibility, that he/she shall ponder introspectively upon his/her actions.

In His summons to the Prophet, the Lord says: 'Once you make a determination, you should have tawakkal (place your trust) onto Allah'. There is no greater determination nor aspiration that could surpass that which was exemplified by Prophet Muhammad salallah alaihi wasalam. 

Allah shall make a person's azimah (determination) and himmah (aspiration) a means (wasilah) for the person to attain a praiseworthy position. That all calamities would be eliminated from him/her. That the person will achieve an admirable goal. One who is determined should not depend on anything else, save his Lord. That is what we learned from the Quran, about the Prophet being asked to rely upon Allah though he might have a firm determination in doing something. Having reliance upon Allah is key, regardless of one's level of determination. 

The Ulul Azmi is the elect few among all prophets and Rasul. The Lord, hence, asked the prophet to have patience as exhibited by the Ulul Azmi. There were five of them: Muhammad, Ibrahim, Musa, Isa, and Nuh. They were well known for their high degree of patience and the burdens they had to bear in carrying out their duties for Allah's sake. 

Nuh faced tremendous challenges from his followers. They would beat him up until he passed out. Yet Nuh would immediately resume his dakwah as soon as he regained consciousness. His followers were rebellious, they would cover up their faces and ears. However, Nuh did not waver in fulfilling his responsibilities as a prophet. He had to face such severe retaliation, not for days, or months or one or two years, Nuh had to endure this for 950 years!

This is a good reminder for the obedient servants of Allah, that they could win greater rewards from Allah if they were to strengthen their determination for the sake of Allah. Thus, he/she should look for any good intentions or traits in the heart that he/she might have, and look for motivations to carry out the intentions wholeheartedly. Similarly, this should also be the attitude in getting rid of any bad deeds. The person should have a firm resolution in multiplying good deeds and in leaving bad deeds.
That he/she should not have any doubts nor be lazy about doing righteous deeds. Know that the devils are not in a position to derail a person who is intent on doing a good deed unless he/she is hesitant, lazy or lacking enthusiasm. As stated in the Quran, "the tricks of Syaitan (devils) are really weak."

You should come to Allah presenting your action, with all your might. And that you should not make it a habit to let your determination slack off. The Prophet reminded his companions to not be like the person (si fulan) who "used to perform the night prayers, but then he stopped."

Once you become accustomed to slacking on your determination, you will have the tendency to lose out on plenty of good deeds. The devils would take advantage of this person's weakness and influence him to forego his determination altogether.

Habib Umar related a story of the solehin who would immediately act upon any good inspirations that come to mind. Even when they were taking the ablution, they would just shout out to their family instructing them to put aside some money for charities. They did not wait, for fear that they might change their mind about the amount to be given away. It is also permissible to speak about carrying out a good intention (i.e. to free a slave) during solah.

The habib also narrated a story about Imam al-Bukhari making a trade offer amounting to 5000 [dirham] to a buyer who promised to come back the next day. Then came another buyer who offered to buy at triple the original price, but Imam Al Bukhari refused to revoke his initial determination to sell it off to the first buyer.  

Habib Umar quoted a line from Imam Abdullah al Haddad's poetry:
"Take, O you who are determined, take with all your determination."

He/she who is intent on doing a good deed with resoluteness will find that Allah would open for him/her 70 doors of tawfiq. 

May Allah grant us the capability to make a firm resolution and protect us from renouncing our intentions. One who has made a serious intention to do a good deed would be rewarded by Allah even if he/she becomes incapacitated, or somehow failed at carrying out the intention.

There is a hadith about one who makes an intention to perform the tahajjud (night) prayers but sleep had overcome the person. He would still be given the stipulated reward for his intention and that his sleep is considered a sadaqah from Allah. But, Habib Umar said, the intention must be strong in the first place and not just be a passing thought.

One should not procrastinate at carrying out his/her intentions and determinations, unless there is an unavoidable circumstance, and one should not be lazy either.

According to Habib Muhammad bin Abdullah al-Idrus, there are three criteria for a deed to be regarded as profitable and successful:
- ikhlas (sincere) for the sake of Allah
- to have a strong will and spirit towards the intended actions
- to depend solely on Allah for the eventual outcome of his determination/intention

He/she who finds these criteria present in his/her actions will be successful.
As said Imam al-Haddad, the person who continually gives up on his intention/determination, will lose out a great deal.

The following hikam (bezels of wisdom) is about conveniently fulfilling one's lower nafs. If one is lenient in accommodating one's nafs, then he/she should be prepared to fulfill even bigger demands from it. 

We are therefore required to strive (mujahadah) in taming the lower nafs and direct it towards something that is more useful. Else, it would drag you to a worse inclination.

Sometimes we are faced with a situation that is "mubah" e.g. it is permissible to eat good food. So sometimes we develop a habit of eating in large quantities with an intention to gain and store energy for doing more ibadah. The devils would encourage us the same, without realizing that we have become used to overeating and eventually forget our intention to perform ibadah.

Nevertheless, one is discouraged to force one's heart, or it might be blinded in its actions. One should calm one's heart and soul on matters that are permissible (mubah or harus) yet one should be wary about controlling the lower nafs so that one would not end up being misguided.

As a seeker (salik) who journeys towards Allah, one must be skillful at managing one's lower nafs so that one's progress would not be hindered by evil influences of the lower nafs. The salik should also refer to his/her guru in order to get better guidance/direction on how he/she could better handle the lower nafs.

At the same time, one should be mindful of the tricks of shaytan who might convince one to undertake too ambitious an intention, something that is beyond one's capabilities. So that one is misled by the nafs, thinking that it is a noble intention whereas one might, in the end, become discouraged as one fails to achieve it. Therefore, one should be smart in phasing one's actions, breaking a big task into smaller manageable tasks.

But then again, one should be mindful that even as one gradually directs one's nafs towards a good action/ambition, the lower nafs might also mislead one to gradually succumb to its demands, slowly pushing the person towards an ugly deed.  

Your presence at this masjid, on this day, at this time is a sign of your strong determination. May we leave this majlis with a good intention and resolve to do good. 

May we leave this majlis with a firm intention to strategize for ourselves and our families on how we could make a solid resolution to elevate ourselves to an honorable position that is close to Allah, and that we remain in such state until the day we return to our Lord.

Imam Abdullah al-Haddad said:
"I am determined to cut all ties (wasilah) that prevent me from acquiring praiseworthy bounties from Allah
and that I forego my love for the dunya for it is a veil from reaping any good from Allah
and I shall fight shaytan and the nafs with the strength from Allah, and I shall disobey them both"

Take note of how Imam al Hadad relies upon the strength of Allah in battling with shaytan and nafs. He did not rely on his own strengths.

"And I shall leave this world behind me, until all that remains to be seen is Allah."

Imam al-Haddad ends his poetry with du'a which we will cite here:

"O Allah grant us a beautiful certitude,
O Allah grant us a beautiful certitude,
O Allah grant us a beautiful certitude,
and grant our hearts a strong will and a perfect certitude,
and grant us high spirits and beautiful patience,
may You grant us the lights of tawfiq that we may be steadfast,
may You grant us continued support
for, You are Everlasting, and that Your mercy encompasses all Your servants
O Allah grant us all that we wish from You
from Your generosities and not of our own debased efforts
O Allah grant us all that we wish from You
more than what we wish for
from Your bounties
and not on account of our own despicable deeds

O Allah we plead You to fulfill our wishes
more than we wish for
from Your generosities
from Your generosities
and not from our own efforts
not from our own efforts
O Most Generous
O Most Loving and Merciful
Accept all of us
Make this morning the best morning for us
and the best day for us
bless us this morning
grant our hearts a strong resolve and determination
and that You grant us from Your tawfiq
improve the state of our hearts
make better our deeds
straighten our words
protect our families and our children
and all our affairs
just as you improve the state of the solehin"

Habib Umar then went on to conclude his tausiyah with a heartfelt du'a:

Bless this masjid and its staff
all the imam and muazzin
and those who frequent it and make contributions
increase for them Your light and tawfik
from Your vast bounties
grant all of these
to us all, who are present, with Your glance O Allah
and the bounties from Your Compassion
of Your divine gifts
that we could attain high rank, near You

Protect us from calamities, both seen and unseen
grant to all Malaysians everything good
protect them from catastrophes
grant them good, now and in the future
grant them happiness in this dunya and akhirah
Look O Allah towards the Muslimin
no matter where they are
that Your glance may remove all our afflictions
so we may become close to You
and grant us everything good from You
grant us a strong resolve in getting near You
in all the actions that we intended
make us firm in our intentions
protect our hearts from the shackles of shayatin and nafs 
from desires for this dunya
unfold to us Your bounties
that we may obtain felicity from Your gifts
that our ranks will be elevated
that it would be fruitful for us
Ya Ar Hamar Rahimin
Ya Akramal Akramin

***

The full recording of Habib Umar's tausiyah, was published here:
https://www.facebook.com/masjidssaas/videos/2529219277358971/?fref=mentions&__xts__[0]=68.ARAIal7VcxsfqCr2-SmRxWPfZ9kQQXAU2g4PyzXyPT0jEv6qAf_nEaBUmlSLxMVvYDVwzvXOdo9HWidwr6G4YIhKFl7kpBG2LwwXzaH3W5oacl2ibXpoFbdUcUnAIR4fn-DA_NAvzDi12W_Nq2faajPoljsWC29Z_HiBnpzyO6SemONK_-XcEb8a2otm6pHhZYnj9wYaqrwY3zHLp3FqFCJZdMtBHzKhsuzt8Ouj_KGcIE1hL7WImt_azEtR353Nqf5PQpHPB1f_Htu1hFC9Iyl3QsPMpqTmpPXLpM13bNR-UJv7ET6cSD60NvhW9IE2sUJGL-q4VLS_OHjVBVZtPu74ylHuOQ&__tn__=K-R

***

Aaah...yes I said I would quit blogging.
But sharing lessons by a special person like Habib Umar,
matters to my heart : )
View from my hotel room.

Saturday, March 9, 2019

Just sharing a lesson I learned at the mosque (and a couple other lessons along the way)

Bismillah.

Assalamualaikum folks,

Yes, I said my goodbyes...but...last nite I learned an important lesson that should be recorded here.

It is about a simple du'a taught by Prophet Muhammad salallah alaihi wasalam to Ummu Salamah. One respectable Malaysian dai'e Datuk Dr Zahazan made the audience repeat after him - a simple du'a which many might already know, perhaps many people have learned it from some books or websites, but perhaps some have heard about it but are yet to memorize it or practice it, but the mu'aleem imparted the lesson anyway and I for one appreciated it wholeheartedly. 

From my experience, any selawat/durood or any du'a or awrad that I learned in person, especially at a mosque, it stays with me the longest time. Alhamdulillah. And this alone is sufficient to make me feel good that the Lord cares.

Of course, I would not have had the opportunity to attend the majlis taa'lim had it not been for my service towards my mother. It's true that being of service to one's mother would open doors to much great stuff. But first I must say thanks to the Lord for His generosities that I am able to be on long leave beginning from yesterday. Because I was on leave, I got to take my mother out for breakfast and do other things. On the way home, I detoured a bit to get mango juice from a vendor near our neighborhood mosque, cos my mom likes it a lot. Because of that small favor I did towards my mother, I saw a poster about the majlis taa'lim - so that's the asbab or the cause for a lesson I needed - about the importance of making supplications to the Most-Compassionate Creator.

That one could make a sincere du'a to the Lord for Him to replace a mishap/calamity/hardship with something better. Being sincere towards the Lord means you have full faith that He is in a position to create a better circumstance or any kind of excellent circumstances to please you, replacing negative experience(s) with an unexpected/unimaginable positive narrative(s).

It's worth taking the time to recall each and every negative situation you have experienced, articulate it to the Lord in detail (even though He already knew), acknowledge your ignorance and weaknesses during each of the situations and plead for a fresh new bounty in return.

The longer you live, chances are the more calamities you have experienced. Think about missed opportunities when you were schooling because you had neighbors who were jealous about your potentials, so they cast sihir and suddenly you became extremely lazy to go to school. Your psychological equilibrium got attacked. You started hallucinating and on most nights in your dreams you see yourself falling. That's what some people wanted of you. This is an example of a calamity, that you lost some precious time in trying to realize your full potential.

During your youth and adulthood, you fell into some bad influences, not that you are good and others are bad. But it is a fact that the environment, peers, acquaintances, all influence us. Think about what you could have been if you had positive people building you up instead of "blacksmiths" dragging you down. 

These are all examples of calamities. They are "good" in the sense that the Lord will replace every single thing that had inconvenienced/harmed you, in fact, He might have replaced it without you realizing it. Regardless, you have today and every day to appeal so that He would replace all calamities in the form of losses, lost opportunities,  lost times, lost friendships/relationships, etc. with a reward/gift that is potentially 10 times better! Think about the prospects. The Almighty Allah is capable of devising a plot in your favor anytime as He wishes. All we need to do is ask:

Allahumma' ajurni 
fi musibati
wa akhlif li
khairan minha
  
Let's rejoice and prepare ourselves to be a receptacle of His wondrous bounties.
And fret not when the level of our iman decreases cos that happens, said Datuk Dr Zahazan and whenever that happens, we should level up, by acquiring knowledge and practicing, and gearing up through remembrance and reflection through these four steps:
  • ilm
  • amal
  • zikir
  • fikir
I am just doing myself a favor really. I learned it from him, I memorized and practiced what I learned, and I reflect on it (fikir) as I draft this posting.

May you benefit too.

     

It was good to know that Datuk Dr Zahazan has been a trustworthy channel for people who are looking for ways to contribute to our fellow brothers and sisters in Syria for 7 years already. He said he never taxed people's contributions for admin charges etc. Just simple, no-nonsense kind of charity work.